Rok panjang, baju sampai pergelangan tangan, dan jilbab yang dikenakan ala kadarnya. Rata-rata mereka seperti itu. Warna bajunya mulai menua berjalan seiringan dengan waktu. Tapi sungguh senyum nya begitu hangat. Itu yang aku dapat ketika aku baru saja melewati pintu masuk depan bersama Ibu pengurus panti. Aku duduk bersama satu dari mereka. Yang lain sedang sholat berjamaah di lantai dua. Dia menjabat tanganku kemudian menciumnya. Ya Tuhan hatiku rasanya tidak menentu. Aku tidak pernah diperlakukan sehormat dan sehangat ini. Aku lupa siapa nama gadis SMP yang menemani ku ini. Bukan lupa sebenarnya, tapi tidak terlalu mendengar ketika dia menyebutkan namanya. Dua kali aku bertanya, dan rasanya aku cukup malu untuk menanyakan yang ketiga kalinya. Jadi aku memutuskan untuk memanggilnya dengan “dek”, aku rasa ini cukup sopan. Kami berkenalan dan mengobrol basa basi, dia begitu halus. Dari situ aku sedikit tau aktivitas mereka di panti ini dan satu hal, dia sudah hafal 7 juz. Subhanallah, aku seperti di tampar rasa malu. Membaca Al-Qur'an saja aku masih terbata- bata dalam umurku yang sekian ini. Saudaraku Riski yang tadi datang bersamaku turun dan memintaku untuk naik berkumpul dengan yang lain. Berarti sholat jamaah telah usai pikirku. Entah jam berapa saat itu, aku lebih tertarik dengan gadis disampingku ini dari pada melihat jam tangan hitam ku. Kami berjalan ke lantai dua. Assalamu’alaikum, kalimat pertama yang aku ucapkan ketika memasuki ruangan sholat mereka. Mereka masih mengenakan mukena. Dengan senyum hormat yang sudah terkontaminasi dengan rasa malu aku membalas tatapan dan senyuman itu. Aku merunduk dan berjalan ke pojok belakang. Anak- anak ini begitu tanggap, mereka mamberiku jalan tanpa aku meminta. Baru aku duduk, gadis kecil yang mengenakan mukena hijau muda langsung menjabat dan mencium tangan ku. Untuk kedua kalinya hatiku menjadi tidak menentu. Sedang ada sosialisasi dari seorang kakak tentang beasiswa untuk masuk di salah satu Perguruan Tinggi Negeri (Islam). Aku lupa apa saja syaratnya, tapi yang jelas teringat satu, mereka harus hafal Al-Qur’an. Aku juga tidak terlalu ingat berapa juz yang harus mereka hafalkan untuk mendapatkan beasiswa itu, karena setiap jurusan berbeda ketentuannya. Sosialisasi ini diselingi dengan beberapa cerita- cerita motivasi yang menggelikan dalam penyampaian nya. Tak heran mereka selalu tertawa dan selalu mengucap nama-Nya ketika ada beberapa cerita yang membuat mereka tidak habis pikir, heran, terharu, dan lain nya (Aku tidak bisa menyebutkan semuanya, telinga ku terlalu sering mendengar mereka menyebut nama Allah). Mereka selalu membuat ku ingin merunduk karena malu. Bagaimana aku tidak malu, beberapa menit sekali wanita-wanita cantik ini selalu menoleh ke arahku. Sosialisasi selesai. Aku pikir malu ku juga akan selesai. Tapi aku salah besar. Mereka terlalu ramah untuk melupakan aku. Bukan pergi dan kembali ke kamar mereka, malah mereka semua mendekat. Rasanya seperti artis saja mereka kerubuti seperti ini. Mereka berbisik, tertawa, tersenyum, dan yang pasti mereka menjabat tanganku. Ada yang berlalu, ada yang tetap duduk bersamaku. Kami berkenalan kemudian ngobrol ngalor ngidul. Mereka menggoda ku dengan beberapa pertanyaan yang membuat ku cukup malu. Bujukan mereka agar aku tetap tinggal untuk malam ini benar- benar menggoda ku. Tapi sayang sepertinya lebih baik tidak untuk malam ini. Kami turun. Aku lihat, beberapa dari mereka sedang memasak, lalu ada yang tertawa lepas duduk di depan TV berukuran kecil, ada yang menyandarkan penat mereka diatas ranjang. Panti kecil ini seakan merekam seluruh aktivitas dan keluh kesah mereka. Panti ini memberi kehangatan untuk mereka, setidaknya tempat untuk berlindung dari teriknya matahari dan berteduh dari dingin nya hujan. Tapi aku rasa keakraban antar satu dan yang lain nya yang membuat panti ini hangat, bukan bangunan panti. Aku melihat adanya rasa pengertian, rasa berbagi, pengakuan “Inilah saudaraku” antar satu dan lain nya, adanya keinginan untuk maju, kebahagiaan, banyak hal yang tergambar tapi tidak terkatakan. Banyak sekali yang aku lihat, bukan barang- barang tersier seperti yang ada di rumah- rumah besar, tapi lebih mewah dari itu, ketenangan dan kehangatan. Kerinduan dan kesedihan mereka seakan terpendam dalam dalam, tertutup dan terkunci rapat dengan tawa mereka, benar- benar tak terlihat. Semua terkalahkan dengan besarnya rasa syukur mereka. Aku malu, benar- benar malu, belum tentu aku setegar mereka ketika aku dalam posisi seperti itu. Mereka tangguh, tanpa Ayah Ibu mereka tetap tertawa dan berjalan maju. Mereka tangguh, terbatasnya keadaan tidak membuat mereka berjalan mundur. Kali ini aku berjabatan untuk pergi. Aku harap aku bisa bertatap muka kembali dengan wanita-wanita cantik ini.

0 komentar:
Posting Komentar