Pages

Selasa, 01 Desember 2009

AKU DAN DIA

Sesuatu memang tak ada yang sempurna. Ah pasti semua tau itu. Seperti pada suatu waktu yang memang semua hal menjadi kacau. Di suatu hari yang semula terlihat baik- baik saja. Yang kemudian menjadi hari yang menyebalkan hanya karna beberapa kata. Entah dia atau akau yang salah. Semua mata terlihat memancarkan cahaya kelam. Tangan pun terasa dingin untuk menyentuh. Bibir tak lagi lihai untuk menyapa. Detik, menit, dan jam kian lelah untuk singgah. Mereka pun mulai beranjak. Kala itu pun semua terlihat membaik. Lesung pipinya mulai nampak. Aku membalasnya dengan senyum ringan. Kita berjalan menjauh. Derap sepatu yang biasa bersama untuk saat ini tak lagi selaras. Dia berlalu. Aku pun duduk tertegun. Terlintas beberapa hal yang cukup membuatku merasa marah. Entah lah apa yang sekarang dia rasa. Bersalah ? atau mungkin sama sepertiku, marah ? Yang pasti semua tak ingin ini terus berlanjut. Seperti tetesan air yang selalu jatuh disebuah batu. Dan mengkikisnya hingga rapuh dan akhirnya hancur. Apa aku dan dia akan seperti batu itu ? Aku dan dia memang sering seperti saat ini. Banyak hal yang mebuat kami tak bisa menyatu seperti genggaman tangan. Sering kali genggaman itu terlepas. Ego mengendalikan kami seperti boneka.
God. . .
Satu yang aku minta.
Hilangkan pembatas antara aku dan dia.
Jadikan kami seperti air dan garam yang selalu bisa bersenyawa.

0 komentar:

Posting Komentar