Ini sebenarnya cerita lama, tapi nggak ada salahnya kan kalau saya posting disini. Karena saya lagi kepengin nulis. Ini termasuk pengalaman menarik bagi saya. Waktu itu saya kelas 1 SMP. Setiap sore setelah maghrib saya dan teman- teman belajar bersama di sebuah sekretariat LSM yang bernama PUSAR (Pusat Studi dan Advokasi Rakyat). Ada beberapa kakak- kakak yang mambantu kita dalam belajar disitu. Kalau kita lagi ada PR atau ada sesuatu yang tidak di mengerti kita dapat bertanya. Di situ kita juga di bebaskan untuk menggunakan komputer yang ada. Dan itu semua gratis, tanpa membayar sedikitpun. Pusar mempunyai suatu organisasi anakan yaitu PAP. Bedanya, kalau PUSAR anggotanya orang dewasa, kalau PAP itu untuk remaja seperti SMP dan SMA. Di akhir tahun pelajaran, PUSAR dan PAP mengadakan suatu konggres anak ditujukan untuk memperingati Hari Anak Nasional dan untuk mencari anggota PAP baru atau regenerasi. Kelompok belajar saya juga di ajak untuk ikut acara tersebut. Anggotanya perwakilan guru dan murid dari setiap sekolah SMP dan SMA yang ada di Ponorogo, udah kebayangkan kan pasti banyak banget. Yah walaupun Ponorogo kota kecil tapi sekolahnya juga sudah lumayan banyak. Acaranya diadakan di salah satu hotel dekat Telaga Ngebel. Saya berangkat bersama sebagian teman- teman PUSAR. Ketika sampai disana, sudah ada beberapa undangan. Satu hal yang menbuat saya iri, yaitu kekompakan anak- anak PAP, mereke bekerja bersama, tertawa bersama. Setelah para undangan datang, acarapun di mulai. Kami di tempatkan di sebuah aula yang ada di hotel tersebut. Oh ternyata ada sosialisasi. Tapi saya lupa dalam sosialisasi tersebut membahas apa hehe, saya duduknya terlalu belakang, jadi bukannya mendengarkan malah ramai sendiri (Jangan ditiru !). Beberapa jam kemudian sosialisasipun selesai. Setelah itu anak- anak di giring ke lapangan besar dekat telaga, yang ada disamping balai desa (mungkin). Sedangkan para guru perwakilan menetap dan di hotel. Hal ini membuat bahan tertawaan anak- anak. Mereka bilang gini “Di undangan tidurnya di hotel, kok malah di lapangan”. Yah menurut saya sih kalaupun di hotel apa cukup ? secara anak- anaknya juga banyak banget. Akhirnya kita tiba di lapangan. Disana sudah ada beberapa tenda besar- besar. Kita pun menaruh barang- barang bawaan kita disana. Kemudian kita berkumpul di lapangan untuk pembagian kelompok. Nama kelompok saya “Gogo”. Entahlah artinya apa, teman- teman saya yang memberi kelompok. Pengaturan kelompok dan yel yel pun selesai. It’s time to games. Kita dihadapkan pada beberapa game yang lumayan sulit dan sangat membutuhkan kekompakan. Kita di game tersebut diharuskan untuk menggendong, di injek telapak tangannya, basah- basahan, menahan kaki teman di pundak, dan lain- lain. Semua itu kita lakukan agar permainan dapat terpecahkan. Kita tidak merasa sakit tapi kita senang. Malamnya dan hari- hari berikutnya kita mendapat beberapa materi tentang anak. Masalah anak, hak anak, lembaga untuk anak, dan lain- lain. Yah yang pasti diselingi dengan beberapa hal atau game yang menarik, agar kita tidak bosan. Kita diminta untuk membuat gambar manusia (anak), dan menunjukan bagian- bagian yang sering atau pernah terjadi kekerasan dan juga apa akibatnya. Trus kita juga di minta menggambar apa permasalah anak yang kita tau. Misalnya kekerasan, pekerja anak, uang sekolah mahal, pembatasan yang terlalu berlebih dari orang tua. Setiap kelompok juga diminta untuk membuat mading. Kita juga disuruh menulis masalah masalah anak yang ada di daerah kita. Semua itu kita buat dan di presentasikan ke kelompok kelompok lain. Suasana disana begitu sejuk dan bersih. Itu juga yang membuat saya senang. Pada malam terakhir ada acara api unggun. Setiap kelompok diwajibkan manampilkan sesuatu. Ada yang menampilkan pantomim, akustikan, drama, dan lain lain. Gogo pun memilih akustikan. Kita nyayi bareng sambil duduk merapat, mantep. Dan nggak ketinggalan acara renungan malam. Sudah seperti kemah pramuka saja. Keesokan harinya ketika di jalan pulang menuju hotel, nggak sedikit anak yang pada minta tanda tangan temen- temen dan panitia di baju acara tersebut. Seperti habis lulusan saja. Setelah sampai di hotel, kita membuat lingkaran besar dan saling berjabat tangan. Kawanku.. kita berpisah. Banyak pelajaran penting yang saya dapat dari sini. Ternyata tidak semua anak mendapatkan hidup yang layak, saya sepantasnya bersyukur dengan keadaan yang serba cukup dan orangtua yang selalu ada dan mendukung saya. Selesai juga cerita saya. Thanks buat para pembaca

0 komentar:
Posting Komentar