Hembus angin untuk sekian kalinya menerpa wajahku yang sejak tadi sudah kusut. Beberapa kali aku bergeser untuk membenarkan posisi duduk ku. Bolak balik aku menjenguk ponselku yang ada di saku kananku. "Ahh sial, gini mulu," gumamku sangat lirih bahkan jangkrik- jangkrik di kost ini tidak ada yang mendengar. Bibirku mulai membuka dan mengatup berulang- ulang menyanyikan beberapa bait lagu sekedar menghibur diriku sendiri. Tatapan ku kosong ke arah depan. Ya seperti inilah aku kalu malam minggu, saat temen- temen sudah sibuk dengan dunia dan pacar masing- masing. Aku hanya diam, malamun dan berpangku tangan disini. Entah kapan lagi aku mulai berani untuk menjalin hubungan dengan makhluk adam itu kembali. Bukannya aku tidak sama seperti perempuan lainnya yang manginginkan hari- hari nya di isi bersma Si teman lelaki. Aku juga masih normal. Aku hanya masih trauma dengan kejadian satahun silam.
“Heh..” terdengar suara perempuan. Tepukan tangannya di pundakku benar- benar membuatku jantungan.
“Apa sih mbak? Bikin jantungan aja,” gerutuku kesal.
“Habisnya malam minggu gini bukannya keluar sama temen kek atau pacar, ini malah ngelamun nggak jelas di depan kost”
“Nggak punya pacar mbak, temen- temen juga tadi aku sms belum ada yang bales. Mbak wulan mau kemana kok rapi banget?”
“Ya malam minggu sama pacar mbak lah, emily sayang. Itu udah di jemput di luar. Mbak pergi dulu ya.. Kamu jangan ngelamun mulu! Kesambet entar hahaha” ejek mbak wulan sambil melambaikan tangannya dan menuju ke halaman depan. Akupun membalas lambaian tangan mbak Wulan dengan senyum tersungging di wajah. Sosok mbak Wulan pun sudah mulai tak nampak, hilang di tengah malam. Aku menyandarkan tubuhku di sandaran kursi kayu. Mataku mulai membidik bintang- bintang yang ada di langit. Aku lihat satu per satu bintang- bintang yang berkedip- kedip. Sesaat aku menutup mata lama- lama, berharap aku bisa tertidur hingga sang surya mulai berkerja membagi- bagi sinarnya untuk berbagai jenis makhluk di bumi. Tapi sayang sepertinya mataku memang tidak bisa di ajak kompromi. “Sial, aku tadi tidur siang” aku menggerutu sendiri dalam batinku. Kemudian aku melihat langit- langit teras kostku itu. Sepasang cicak sedang bermain kejar kejaran bak pemain di film india. Mungkin yang besar itu cicak jantan, tak henti- hentinya mengejar si cicak betina hingga akhirnya bertemu disuatu tempat dan berpagutan dengan versi cicak tentunya. Aku tersenyum geli memandang sepasang cicak itu. Tiba- tiba saja terdengar suara dari ponsel di dalam sakuku yang lama kelamaan semakin mengeras, “Bip bippp biip bip .. klik”.
”assalamu’alaikum ma, ada apa?”
“Wa’alaikumsalam dek. Mama cuma mau ngingetin jangan lupa sholat isya’ dek. Ini bude Intan lagi main kerumah”
“Iya mah, tadi adek udah sholat kok. Ngapain ma ? sama mas Dera nggak ?”
“Ya cuma main saja nak, kamu ini tanyanya kok aneh. Iya si Dera juga ikut kok. Kamu mau ngomong dek ? Ini der, mily mau ngomong kayaknya.”
Sesaat suara lembut seorang ibu itu sudah berganti dengan suara lelaki yang besar.
“Hey mil, ada apa?”
“Nggak ada apa- apa mas. Ngapain kerumah ? tumben amat mas. Ini malam minggu loh! Bukannya seharusnya mas ada di kafe, taman atau di rumah itu tuh..”
“Hahahaha siapa ? Loly yang kamu maksud?” jawabnya dengan suara tawa yang terbahak- bahak.
“Ya iya lah si lolipop itu, emang ada yang baru ?”
“Dia lagi ke Jakarta mil ngookk, nggak bisa malam minggu. Mas jamin kamu disitu juga cuma di kost hahaha”
“Ih dasar babi, nggak usah buka buka rahasia orang”
“Hehehe kenapa nggak keluar adik ku sayang ? Temen- temen mu kemana ?”
“Enggak tau huhu. Udah ah, kasih ke mama lagi telponnya mas!”
“Dek, ya sudah mama tutup dulu ya telponnya? Batrai mama udah kelap- kelip mau habis. Makannya di jaga nak, jangan lupa sama Allah! Assalamu’alaikum”
“Iya mah, wa’alaikumsalam”. Tut tut tut...
Langsung saja aku menyimpan kembali ponselku ke dalam saku. Aku mulai beranjak dari singgasana kayuku ini dan berjalan menuju kamar. Kreeekk.. aku membuka tas hitamku yang tergeletak di atas ranjang. Sebuah mesin kotak kecil berwarna seperti coklat yang menggiurkan. Mungkin barang ini lah yang setiap saat ada untukku, entah itu membantu meringankan tugas- tugas dari para dosen killer di kampusku, atau memutarkan musik musik klasik yang bisa menenangkan dan membawaku ke pulau kapuk dan masih banyak lagi yang dapat kotak kecil ini lakukan untukku. Tapi sayang, bagaimanapun juga ini hanya sebuah mesin buatan manusia, mesin mungil ini hanya melakukan semuanya ketika jari- jari kita sudah memerintah. Seandainya mesin ini mempunyai perasaan seperti diriku, aku berharap dia mau menemani dan mendengarkan segala keluh kesahku layaknya teman dekatku. Tanganku mulai menggapai notebook dari dalam tasku itu dan membawanya keluar menuju singgasana kayuku kembali. Kutempatkan mesin mungil ini diatas pangkuan ku, seolah- olah aku seperti ibu yang sedang memangku anaknya. Ah aku jadi teringat mama dirumah. Aku masih ingat dulu ketika aku rewel gara- gara sebuah balon, beliau langsung merangkul, mengusap air mataku, dan menggendongku menghampiri bapak penjual balon itu dan membelikanku sebuah balon berwarna merah untuk menggantikan balonku yang sudah terbang ke langit. Seandainya saja aku nobita, yang mempunyai teman seekor kucing ajaib bernama doraemon, aku sangat berharap bisa kembali ke waktu itu. Aku tekan tombol on notebook ku dan mulai ku ketik passwordku untuk membukanya. Aku langsung memutar beberapa instrumen piano, aku memang suka mendengarkan instrumen piano seperti ini, ini membuatku cukup tenang. Aku mulai teringat satu hal, segera saja ku obrak- abrik isi notebook ku, mencari- cari beberapa foto yang aku inginkan. Dimana dia? Perasaan aku menyimpannya disini, tapi kenapa tidak ada. Apa mungkin aku sudah menghapusnya waktu semua gelas itu pecah? Aku sangat ingat sekali saat itu air mataku tumpah tak terbendung. Mataku mulai melirik kekanan dan kiri menelusuri beragam file di notebook ku. Hati ku mulai cemas. Mataku mulai tertarik dengan satu folder, aku lupa apa isi di dalamnya. Ku arahkan panah kecil di layar mendekati folder itu, kemudian aku klik dua kali sehingga folder itu pun membuka rahasia di dalamnya. Perasaan terkejut, senang, dan sedih langsung meledak di dalam hatiku. Ini foto- foto yang aku cari. Aku memandang tajam- tajam kedalam sosok laki- laki yang bersamaku di layar. Mata itu, hidungnya, kulit kuning langsat, tubuh yang cukup ideal, dan satu lagi, rambut gondrong ala anak muda sekarang yang aku akui dia sangat cocok dengan style rambutnya itu. Aku masih ingat itu semua. Aku juga masih ingat bagaimana dia tersenyum, tertawa, marah, semua. Dia cukup lama ada disampingku, mungkin sekitar 2 tahun. Tapi setelah keputusan keluarganya untuk pindah keluar kota itu muncul, semua cerita kita berakhir. Aku memilih bad ending untuk ceritaku bersama dia. Diriku mulai bernostalgia dengan foto- foto ini. Tawa ku muncul memandang foto dimana tubuhnya penuh tepung, itu hari ulang tahunnya. “Bagaimana kabarnya dikota bunga?” ucapku lirih. Tak sadar aku mulai menitikan air mata. “Drrrtt.. drrrtt.. drrt.” Kurasakan ponsel dalam saku ku bergetar. Segera ku usap air mata ku dan ku baca sms di ponselku.
From: Rita
Mil sorry aku kasih no km k dia.
Apa yang di maksud Rita? Dia siapa? Berbagai pertanyaan berterbangan di otakku.
Ketika aku mau membalas sms dari Rita, tiba- tiba ponselku berbunyi “bip bipp bip....” “Nomer siapa ini ?” Aku tekan juga tombol terima di ponselku.
“Assalamu’alaikum, maaf ini siapa ya?” jawabku dengan ragu- ragu.
“Wa’alaikumsalam mil, ini tama.”
Suara serak lelaki itu benar- benar menbuatku terkejut, apalagi jawabannya. Apa dia tama yang sedang aku pandangi fotonya ? Aku semakin gugup.
“Tama ?”
“Iya iya ini Tama Mil. Kamu lupa ya?
“Oh nggak, aku Cuma memastikan aja tam. Ada apa tam?”
Mana mungkin aku lupa dengan laki- laki ini, pertanyaannya benar- benar menggelikan sekaligus menyebalkan. Aku mengerti sekarang apa yang di maksud Rita. Semenjak peristiwa itu aku memang menjauh dari pemilik suara serak ini.
“Nggak ada apa- apa. Gimana kabar kamu ?”
“Alhamdulillah baik, kamu sendiri?”
“Baik juga kok. Emmm.. minggu depan mungkin aku mau ke Jogja Mil.”
“Oh ya? Bagus lah, temen- temen juga sempet ngomong kemaren kalau mereka kangen.”
“Oh yang kangen Cuma mereka ?”
“Maksud kamu? Kayaknya mbok Nah yang jual bakso deket sekolah kita dulu juga kangen, kemaren waktu aku keasana nanyain kamu hehehe” senyum canggung ku sangat jelas.
“Haha salam saja dulu buat mereka. Kalo kamu?”
“Udahlah tam..” Jawabku singkat. Aku sudah bingung mau menciptakan kata- kata garing apa lagi untuk menutupi rasa rinduku yang sudah bercampur dengan rasa canggung. Beberapa saat aku hanya dan dia membisu. Hanya tetes- tetes air hujan yang mengguyur halaman kost ku itu, entah sejak kapan hujan turun, pikiranku sudah kacau dahulu dengan telepon dari Tama.
“Emily..” bukanya untuk mengakhiri kesunyian.
“Iya, kenapa?”
“Kalau aku udah disana, aku mau ketemu.”
“Emm nggak tau”
“Tolonglah Mil” Pintanya singkat tapi benar- benar membuat hatiku semakin kacau. Aku harus menjawab apa. Memang terdengar mudah untuk menjawab, tapi jujur permintaannya ini benar- benar membuatku dilema. Aku jawab tidak, tapi aku ingin sekali melihatnya kembali, walau Cuma satu menit. Aku jawab iya, tapi ini malah akan mempersulit langkahku untuk menghapus sedikit demi sedikit dia dari otakku. Bagaimanapun aku harus menjawabnya, tapi sekali lagi, apa yang harus ku katakan ??
“Mily..”
“Ehh iya maaf.”
“Gimana Mil ?”
“Aku bingung Tam” Sekali lagi semua membisu. Jari telunjukku mulai mengetuk- ngetuk kursi kayu yang aku duduki. Aku benar- benar bingung.
“Okelah kita ketemu.”
“Bener ya Mil? Makasih.” Dari suaranya sangat jelas dia sangat bersemangat mendengar jawabanku.
“Iya. Udah ya? Udah malem. Assalamu’alaikum”
Belum sempat terdengar balasannya, aku buru- buru mematikan telepon itu. Dengan segera aku mematikan notebook ku dan menuju ke kamar. Kuletakkan notebook dekat buku- buku tebal di atas meja. Aku berjalan mondar- mandir untuk beberapa saat hingga akhirnya mendekati ranjang kecilku. Kuhempaskan tubuhku ke ranjang. Pikiranku masih melayang dan memutar- mutar memikirkan kejadian tadi. Hanya lima belas menit Tama berhasil membuat kacau hati dan otakku. Apa maksudnya mengajakku bertemu? Kenapa aku menjawab iya? Berbagai pertanyaan muncul dan menyerang otak ku kini. Beragam rasapun meledak- ledak di hati. Ku tutup wajahku dengan kedua tangan ini. “Tuhan..” Kataku lirih. Ku ganti posisi tidurku, aku benar- benar merasa tidak nyaman, aku gelisah. Entah aku merasa tidak nyaman karena ranjang kecilku ini atau karena lima belas menit bersama Tama di telepon tadi yang mungkin penuh kebisuan. Ku coba untuk menenangkan diri. Aku berharap aku tidak akan seperti ini ketika aku bertemu dengan dia.

0 komentar:
Posting Komentar